When someone yells at you... TO HELL WITH IT. YELL BACK.

Kehidupan selalu punya cara tersendiri untuk menunjukkan banyak hal yang pastinya nggak akan pernah kita duga. Mungkin masih ingat di pikiran, ketika di bangku kuliah, lo ngerasa muak dengan pertemanan palsu, kegiatan yang cuma ngabisin waktu sampai percintaan yang dipenuhi bumbu.

Sampai lo sering banget berkata,"Buruan lulus ke', muak banget kuliah bareng anak-anak yang ngga ada dewasa-dewasanya gini..." atau mengeluhkan persoalan ekonomi yang tiba-tiba bikin lo mendadak jadi orang paling dewasa sedunia, "Gue pengen buru-buru lulus biar bisa cari duit sendiri, nggak harus minta mulu ke orang tua..." atau keluhan tentang dosen-dosen cabul dan mahasiswanya yang penjilat, "Anjir itu dosen kenapa ngga dipecat aja, senengannya ngajak bobo bareng mahasiswanya..."

Huft. Kalau aja waktu bisa diputar kembali... Mungkin lo akan lebih menghargai setiap detik yang lo lalui waktu itu. Bukannya mengumpati.

Eh, tapi hal itu juga yang akan terngiang-ngiang di kepala lo begitu merasakan 6 bulan lepas gelar mahasiswa. Lah? Jadi mesti gimana sih? Pas udah kerja lo pengen balik sekolah, pas di sekolah lo kepengen kerja. Begitu aja terus. Sampai kapan?

But honestly, itu fenomena apaan sih sebenernya? Kayanya hidup lo diisi dengan keluhan-keluhan yang nggak jelas juntrungannya. Keluhan yang lo sendiri udah tau banget ujungnya kaya gimana kalau dilanjutin. Keluhan yang dilontarkan hanya karena kurang bersyukurnya diri ini dengan keadaan yang sekarang sedang dijalani.

Tapi ya, kita nggak pernah tau kehidupan yang dijalanin orang lain itu sesulit apa... Karena bisa aja mereka pintar menyembunyikan setiap luka yang dirasain. 

Atau mereka hanya pintar bersyukur.

Sulit buat gue untuk nggak menghubungkan hal ini dengan kehidupan pribadi, ketika lo tahu betul kekurangan diri lo sendiri. 

"Lo harusnya bersyukur bisa kuliah, lulus cum laude, dan sekarang punya kerjaan yang lumayan."

To hell with it. Be ungrateful. It's the only way to honour myself when everyone treats you like shit.

Ketika orang lain memperlakukan lo seperti ta*, lo bisa banget mengumpat lantas ngerasa nggak bersyukur dengan pekerjaan lo. Karena apa? Ya karena lo nggak akan memperlakukan orang lain kaya dia. Karena orang itu fucking wrong in treating other people!! Because you deserve better treatment!!

I have permission to dislike working with those pricks.

I have permission to throw any chance in licking someone's boot to get promoted.

I have permission to want more out of life.

I have permission to hate someone or some people. To hell with it?

I have permission to hate my job.

Because it's my way to reach another greater level in life. Gue pengen mencapai level yang jauh lebih tinggi, oleh karena itu keadaan lingkungan serta orang-orang di dalamnya pastinya berpengaruh besar terhadap kesuksesan hal tersebut. 

I can yell back, but that kind of shit is not me. Instead, I choose to leave or show it to everyone's face that they are wrong.

Merasa kurang bersyukur artinya adalah lo sadar banget kenyataan dari situasi yang lagi lo jalanin. Artinya lo sadar banget bahwa suatu hal di kehidupan lo nggak memperlakukan lo dengan seharusnya sampai lo akhirnya harus take action dan berusaha untuk mencapai perubahan yang berarti, yang lebih pantes lo dapetin.

A smooth sea never made a skilled sailor (only if he does something with it)

Dan menjadi orang yang bisa 'membaca' bahwa keadaan di hidupnya nggak berjalan dengan semestinya bisa membantu lo jadi pelayar yang jauh lebih skillful. Karena lo aware banget dengan kondisi ombak dan perubahan anginnya. Dan akhirnya lo melakukan percobaan untuk mendapatkan hasil yang berbeda namun lebih baik lagi.

The point is, I don't know what would I be without having the chance to write off my feelings...

We deserve joy, love and fulfilment in the end. 

-S

Popular posts from this blog

My Star by Robert Browning

The Era of Puritanism (1564-1660): Literary Works

Gender Stereotypes and Performativity in Frozen Movie